Selasa, 13 April 2010

putriku adalah intanku

kisah perjuangan seorang ibu yang "mengobral" kehormatannya demi kelangsungan si buah hati yang mengidap penyakit leukimia.

aku sudah lama melakukan pekerjaan ini. sejak dua tahun yang lalu dia divonis leukimia stadium lanjut oleh dokter. hal ini aku lakukan demi anakku yang mengidap penyakit kanker darah. kata dokter hidupnya tidak lebih dari satu tahun lagi. aku akan lakukan apapun demi kesembuhan puteri kecilku, pekerjaan nista sekalipun. hati ini tidak ingin melakukan semua ini, tapi keadaan memaksaku untuk melakukan semua ini.

stiap harinya aku melakukan aktivitas seperti biasa sebagai pembantu rumah tangga disebuah rumah mewah di komplek depan kampungku. majikanku ibi Dibyo termasuk majikan yang tidak rewel dan mengijinkan aku untuk membawa anakku intan selama aku bekerja, karena beliau sudah tau keadaan anakku. intan selalu ikut kemanapun aku pergi, itu aku lakukan agar dia selalu berada di bawah pengawasanku setiap saat. sampai tidurpun kami berada dalam satu ranjang. memang, malang sekali nasib anakku. ayahnya pergi merantau ke jakarta pada saat usianya 2 tahun, bilangnya sih ingin mencari pekerjaan, tapi sampai sekarang batang hidungya pun tidak pernah terlihat lagi dihadapanku. aku, ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga dengan gaji pas-pasan dan sangat tidak bisa memberikan kehidupan yang layak kepadanya. disaat anak seusianya ceria karena dibelikan sepeda baru oleh orang tuanya sebagai hadiah, anakku intan tidak pernah sama sekali merasakan keceriaan seperti itu. demi tuhan aku merasa sangat berdosa karena tidak pernah memberikan kebahagiaan kepadanya. tapi, beruntungnya aku memiliki anak seperti intan. dia selalu ceria seolah -olah tidak ada penyakit yag siap mencabut nyawanya kapan saja. dia juga selalu menjadi lentera dan penyemangat dalam hidupku. selalu menjadi harta yang paling berharga dalam hidupku. karena itulah aku memberi namanya intan, dia selalu menjadi harta "termahal" dan terindah dalam hidupku.

intan puteri. anakku ynag baru berusia 5 tahun sudah diberikan cobaan yang laur biasa oleh tuhan. sejak usianya 3 tahun ia didiagnosa dokter sudah mengidap leukimia stadium lanjut. artinya sedikit harapn untuk hidup. pekerjaanku yang hanya sebagai pembantu rumah tangga tidak mungkin bisa membiayayi operasi dan segala macam pengobatan untuk anakku. sudah putus asa rasanya. bingung harus berbuat apa. aku tidak tega harus melihat intan menangis kesakitan, muntah dan terkakdang pingsan menahan rasa sakitnya itu.

lelah aku melihat buah hatiku yang seperti itu. teriris hatiku melihat keadaanya. kalau aku bisa menangis dan teriak sekencang-kencangnya aku akan berkata "tuhan aku hanya ingin anakku sembuh dan melihat dia bisa bermain dengan teman seusianya dan aku rela menukarkan nyawaku demi anakku". tapi tidak mungkin. aku tidak mungkin dan tidak boleh meneteskan air mata dihadapannya. aku tidak ingin beban hidupnya bertambah karena melihat kesediahnku. aku berusaha ceria walaupun hatiku sakit melihat keceriaaanakku. aku takut canda tawanya tidak bisa kulihat lagi. aku tidak ingin hal itu terjadi.